[Kutipan/Quotes] “Pergi” Tere Liye

June 30, 2018



“Sebuah Kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan demi kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan kemana langkah kaki akan dibawa Pergi.”


 [Kutipan/Quotes] “Pergi” Tere Liye
“Tapi begitulah rumus kehidupan. Dalam perkara shalat ini, terlepas dari apakah seseorang itu pendusta, pembunuh, penjahat, dia tetap harus shalat, kewajiban itu tidak luntur. Maka semoga  entah di shalat yang ke-berapa, dia akhirnya benar-benar berubah. Shalat itu berhasil mengubahnya. Midah pasti pernah bilang itu kepadamu.”
Tuanku Imam, Pergi – Tere Liye (Hal.86)


“Lagipula pernikahan, urusan perasaan, cinta, kebencian, itu semua tidak sederhana yang dilihat. Kadangkala tidak bisa dijelaskan, kadangkala dipenuhi kesalahpahaman, kadangkala dipenuhi kesedihan dan kemalangan.”
Si Babi Hutan, Pergi – Tere Liye (Hal.93)


“Aku tidak akan membiarkan perasaan bersalah atau orang lain menghakimiku, karena mereka tidak berhak melakukannya. Biarlah Tuhan kelak yang menghakimiku.”
Salonga, Pergi – Tere Liye (Hal.107)


“Aku tahu itu fiksi, Tuan Salonga. Cerita-cerita dongeng memang fiksi, tapi inspirasi yang ditimbulkan jelas nyata. Dalam sistem dunia sekarang, pemerintah tidak bisa dipercaya, dipenuhi politisi korup dan jahat. Sistem formal dan legal dunia juga korup, kapitalisme, demokrasi, itu cara jahat yang dilegalisasi. Kemiskinan dan kelaparan tetap ada di mana-mana, peperangan, ketidakadilan. Sistem itu sudah rusak. Maka boleh jadi ada alternatif lain memperbaikinya. Lewat Keluarga Tong, lewat penguasa shadow economy. Saya ingin menjadi penyelesai masalah tingkat tinggi. Seperti Si Babi Hutan.”
Rambang, Pergi – Tere Liye (Hal.128)


“Saya hanya ingin menjadi seperti yang saya bilang. Berpindah tempat, terbang ke mana-mana, menggunakan seluruh kecerdasan dan ketangguhan fisik untuk menyelesaikan misi. Itu keren sekali. Menjadi seseorang yang tersenyum di balik semua kepalsuan hidup, saya ingin menegakkan kebenaran dan keadilan”.
Rambang, Pergi – Tere Liye (Hal.129)


“Saya akan membuktikan bahwa saya layak. Berkali-kali, berkali-kali, berkali-kali. Tidak akan pernah berhenti.”
Rambang, Pergi – Tere Liye (Hal.129)


“Dia cerdas, tidak diragukan lagi. Berani, tentu saja. Dan punya hati yang teguh.”
Salonga, Pergi – Tere Liye (Hal.130)


“Di Negara-negara berkembang, partai politik, jabatan, dan kekuasaan tidak lebih adalah mata pencaharian kelompok tertentu. Politisi hanyalah serigala rakus yang memakai topeng seolah baik – mereka bukan patriot, juga jauh dari idealis, uang adalah segalanya bagi mereka. Urusan konsesi akan selesai jika kami serius akan mendukung kandidat presiden lainnya.”
Pergi – Tere Liye (Hal.174)


“Kesalahpahaman, bukan ? Catrina memang tidak menyukai pemuda yang berlagak di depannya. Itulah kenapa dia masih lajang hingga hari ini, Samad. Dia membenci laki-laki, menjaga jarak, kasar atau bahkan dalam level tertentu, dia membenci istilah ‘jatuh cinta’ itu sendiri.”
Istri Duta Besar, Pergi – Tere Liye (Hal.181)


“Tapi Catrina, Samad adalah sahabat yang menyenangkan, dia tidak sedang berlagak, sok akrab apalagi sok ramah. Dia memang seorang gentlemen sejati, pemuda flamboyan. Bad boy. Itulah gaya aslinya. Tidak dibuat-buat.”
Istri Duta Besar, Pergi – Tere Liye (Hal.181)


“Dalam banyak hal kita tidak bisa memilih waktu terbaik. Saat sesuatu itu datang, kita hanya bersiap menghadapinya.”
Hiro Yamaguchi, Pergi – Tere Liye (Hal.195)


Tapi Hiro tetap berdiri gagah, apa pun yang tidak berhasil membunuhnya, justru membuatnya semakin kuat.”
Salonga, Pergi – Tere Liye (Hal.128)


“Dia tidak mencari musuh dan menghindari kekerasan, tapi jelas, dia akan bertindak jika orang lain menerang keluarganya lebih dulu.”
Salonga, Pergi – Tere Liye (Hal.230)


“Itu lagu yang sangaat indah. Sejak kecil Mama sering menyanyikannya untukku. Saat aku takut tidur sendiri, saat aku susah memejamkan mata, Mama akan mengelus kepalaku, lantas bernyanyi dengan suaranya yang merdu, hingga aku jatuh tertidur dan bermimpi indah. Waktu itu aku tidak tahu apa arti kata-katanya, itu bukan lagu anak-anak, tapi semakin besar, aku tahu maksudnya. Itu lagu favorit Mama, aku sering menangkap basah Mama menyanyikannya saat sendirian – dan Mama menangis.”
Diego, Pergi – Tere Liye (Hal.246)


“Malam itu, sekuat apapun Mama mengenyahkannya besok lusa, Mama telah jatuh, pada seorang bad boy sejati. Kepada Padre.”
Diego, Pergi – Tere Liye (Hal.247)


“Selain memeluk kenangan, musik juga memberikan inspirasi. Musik bisa membuat kita menangis, sekaligus membuat kita tersenyum, berterima kasih, termasuk berdamai.”
Pergi – Tere Liye (Hal.250)


“Padre adalah seseorang yang pandai bicara, memiliki selera humor baik – terlepas dari gaya sok itu. Mama tertawa renyah beberapa kali mendengar lelucon Padre.”
Diego, Pergi – Tere Liye (Hal.252)


“Aku tahu kamu memiliki kemampuan tersenyum saat sedang menangis, tetap terlihat biasa-biasa saja saat sedang terluka. Kamu bisa menutupi perasaan sesungguhnya. Aku tahu itu.”
Catrina, Pergi – Tere Liye (Hal.277)


“Bapak memang bad boy, tapi dia bukan play boy. Dia tidak pernah berbohong, atau menipu wanita yang pernah special dalam hidupnya.”
Si Babi Hutan, Pergi – Tere Liye (Hal.278)


”Teman seperjuangan lebih penting daripada bisnis itu sendiri. Lebih penting dari pemerintahan. Persaudaraan adalah simbol kesetiaan, kehormatan.”
Pergi – Tere Liye (Hal.283)


“Karena itulah hakikat hidup, melewatinya seperti sungai yang mengalir, saat waktu terus berjalan, hingga maut menjemput.”
Pergi – Tere Liye (Hal.393)


“Saat mati, semua akan tertinggal di belakang. Aduh, malangnya urusan ini, 40 tahun itu tidak bisa diulang, tidak ada tombol replay, atau restart. Semua telah terjadi. Semua telah tertinggal di belakang.”

Pergi – Tere Liye (Hal.393)
















You Might Also Like

0 Comments