Diremehkan driver karena salad buah.

January 08, 2020

Pagi ini tiba-tiba inget, belum lama ini diremehkan sama driver g*car, sewaktu perjalanan pulang ke rumah. Tepatnya 10 Desember 2019.
Enggak tau kenapa, untuk satu tujuan tapi beliau menggunakan cara yang salah.

Obrolan pertama kali dibuka dengan kuliah di mana, kok wisudanya di sini. Karena memang kampus gue selalu menggunakan ballroom di salah satu hotel besar di Jakarta.

"Kampus saya memang selalu wisuda di sini kok pak tempatnya." Gue jawab dengan apa adanya.
Lalu nggak lama Handphone beliau berdering, ternyata dari istrinya. Gue lagi asik ngobrol sama nyokap, walaupun samar-samar terdengar isi percakapan mereka, kalau istrinya meminta untuk mampir ke sesuatu tempat untuk membelikan barang yang saat itu gue belum tau itu apa.

Setelah selesai menerima telepon dari istrinya, beliau melanjutkan obrolan, mulai dari menanyakan kepemilikan rumah, tinggal berapa lama. Mungkin dia kaget, orang yang beliau pikir nggak seharusnya tinggal di kawasan yang gue tinggali, ternyata gue ada di dalamnya.

Gue mulai merasa aneh, mulai mengobservasi apa maksud tujuan dari pertanyaan halus yang terselubung itu.

Ada pertanyaan lanjutan yang akhirnya gue tau tadi istrinya menitipkan apa.
"Di sini Lotte Mart di mana ya mbak?"
Gue jawab aja sekenanya, untuk sekalian membuktikan hasil observasi gue, betul atau enggak mengarah ke suatu hal.
"Oh di daerah sini mah nggak ada Lotte Mart, Pak."

"Gitu ya, enggak ini istri saya tadi telpon mau roti, mau beli roti yang di Lotte Mart, klo yang lain enggak mau." Menceritakan percakapan dengan istrinya di telepon sebelumnya.

"Klo mau, paling deket ya Foodhall, Pak."
Gue mencoba melanjutkan percakapan dengan sebaik mungkin, dan menyarankan tempat itu karena sekalian jalan dan nggak harus jauh ke Lotte Mart yang sebenarnya ada di kawasan agak jauh dari rumah gue, walaupun tentu aja roti atau cake yang diinginkan akan berbeda seperti yang ada di Lotte.

"Hehe, istri saya nggak mau mbak klo bukan roti yang di lotte."
Gue jawab singkat "oh iya pak."

"Mbak udah pernah makan salad buah?"
Lanjutnya lagi.
"Udah Pak".
"Oh udah, gimana rasanya?"
Tanyanya dengan suara yang sedikit kaget, seolah-olah jawaban yang gue kasih diluar ekspektasi dia.
"Ya asem-asem, seger." 
Gue jawab dengan polosnya, sambil berucap dalam hati, ya emang rasanya harus gimana emang si salad buah 😂

"Enggak jadi giniii, saya punya usaha, jual salad buah, murah cuma 15 ribu."
Hening sebentar.
"Mbak sering makan salad buah?"
 "Enggak sih, Pak."
 Jawab gue singkat.

Gue lupa tepatnya gimana pertanyaan beliau, tapi intinya dia nanya apa di tempat gue tinggal ada yang jual salad buah dan apakah gue sering beli.
"Di tempat saya mah enggak ada yang jual salad buah, jadi jarang beli pak." Jawab gue dengan intonasi sesantai mungkin.
"Loh terus pernah makan salad buahnya di mana?" merasa bingung dan sedikit curiga.
"Saya makannya di kantin kampus *menyebutkan nama salah satu universitas negri* pak."
"Loh kok sampai kesana, ngapain?"
"Iya memang sering kesana kok pak."
Lalu beliau cerita klo rumahnya dekat dengan kampus tersebut. Namun suaranya sudah terdengar sedikit menghargai.

Tapi tidak berlangsung lama, sepertinya impression gue tentang 'sedikit menghargai' salah, karena selanjutnya beliau melontarkan pernyataan seperti ini;
"Yaa, jadi saya itu buat usaha sambilan, jual salad buah untuk orang-orang yang menengah kebawah, biar ikutan ngerasain, makanya saya jual murah."

Gue semakin yakin dengan hasil observasi gue dari awal perjalanan dan membuka obrolan dengan perulangan kalimat ini "Kan orang-orang menengah kebawah jarang makan buah apalagi salad buah (sebetulnya ada lagi kelanjutannya tapi gue sedikit lupa, daripada salah, lebih baik gue nggak lanjutin kalimatnya, tapi intinya diperulangan kalimat itulah semuanya terjawab)."

To be honest, gue terenyuh dengan niat baiknya untuk menjual salad buah itu, tapi dari awal percakapan, menanyakan asal kampus, tempat tinggal, makanan yang belum semua orang suka (salad buah), dengan satu tujuan marketing tapi merendahkan orang lain.
Kalau langsung dibahasakan akan terdengar seperti ini.
"Mbak saya jualan salad buah, murah. Mbak termasuk kategori market saya nih, orang susah yang belum pernah makan salad buah."

Gue sampai rumah kepikiran, bahkan sampai saat ini masih kepikiran. Kalau penumpang yang beliau bawa, ternyata memang masuk market-nya beliau, belum pernah makan salad buah atau sesuai dengan ekspektasi beliau, bukankah nanti bisa menjadi pencetus rasa insecure?

Apakah penumpang lainnya nanti akan senang dengan cara yang dilakukan, dengan mudahnya beliau mengkategorikan orang, meremehkan orang lain. Gue cuma berharap semoga suatu saat nanti caranya menawarkan produk berubah, ada orang berani yang menegur beliau. 

Gue memilih untuk nggak menegur beliau karena badan gue saat itu sebetulnya kurang sehat, takut terpancing emosi. Jadi sisa tenaga yang ada gue gunakan untuk aktivitas selanjutnya, karena gue masih ada UAS di salah satu kampus negri yang sebelumnya gue ceritakan ke beliau. Di sanalah gue makan salad buah.
(Ps: jangan bingung, gue udah wisuda tapi masih ada UAS, karena memang keduanya bukan univ yang sama).

Kalau boleh ditilik, kendaraan yang beliau gunakan juga sudah usang, dengan jok mobil yang sudah mengelupas. 

Penutup; 
Kamu tidak akan menjadi tinggi, dengan merendahkan orang lain.
Kamu tidak akan menjadi pintar, dengan membodohi orang lain.
Memanusiakan manusia tidak akan membuatmu rendah.
Karena dimata Tuhan kita semua sama :)





You Might Also Like

0 Comments