Review Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

January 20, 2021

[Short Review] I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki.

Instagram: @meinplatzzz

Masuk list salah satu buku yang butuh waktu lama untuk gue selesaikan baca. Buku Baek Se Hee ini berisi sharing antara Psikiater dan Pasien yang tidak lain sekaligus penulis buku.

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah esai yang unik, esai ini nggak ditujukan untuk kita pahami secara teori, melainkan ditulis apa adanya berdasarkan pengalaman penulis tentang bagaimana hidup dipengaruhi distimia. Bagaimana diagnosis bukan dijelaskan melalui kalimat saja, tapi ketika dirasakan melalui pengalaman.

Jadi sewaktu gue baca buku ini emg gue kayak bener-bener dibawa untuk mendengarkan cerita pengalaman seseorang yang survive melewati masa-masa kelam, gue rasa buku ini juga cocok dibaca untuk kalian yang merasa "gue kayaknya depresi deh" padahal belum tentu, cuma self diagnose berdasarkan hasil googling tanda-tanda terkait depresi, sedangkan hal ini harus dilakukan oleh seorang yang ahli di bidangnya. Buat gue pribadi, gue kayak belajar lagi memahami orang lain, ikutan pusing klo penulis merasa stuck atau berkutat di masalah atau problematika yang itu-itu aja, gue yang baca juga harus pelan-pelan banget sempet juga ngerasa ke trigger sama beberapa hal yang penulis ceritain karena berkaitan dengan pengalaman dalam hubungan pertemanan yang kurang baik.

Buku ini nggak cuma menunjukkan perasaan gelap, melainkan menemukan penyebab yang mendasar melalui situasi yang spesifik, dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih sehat, bahwa menunjukan sisi gelap dari diri kita adalah hal yang sama normalnya saat menunjukkan sisi terang dari diri kita.

In my honest opinion, klo kalian mau baca buku ini, ada baiknya kalian baca di saat kalian nggak merasa terlalu overwhelmed, cari waktu yang tepat sesuai kondisi kalian yang kondusif, kenapa? Karena seperti yg gue sampaikan di atas, kita dibawa kayak dengerin cerita orang jadi kita bukan cuma kayak mendengarkan tapi juga memahami dan bisa jadi juga membantu kita memahami orang lain atau ternyata justru diri kita sendiri. Kita juga melihat interaksi antara psikiater yang tidak sempurna dengan seorang pasien yang juga tidak sempurna. Namun interaksi antara dua orang yang tidak sempurna ini sama-sama membuat mereka bertumbuh. Karena pada akhirnya, tujuan manusia bukanlah menjadi sempurna, melainkan menjadi semakin baik dan semakin bertumbuh.

You Might Also Like

0 Comments