Curhatan Kpopers

October 12, 2019

anggrainicaa12//anggrainica.com

Haiii!!
Halooo!!
Annyeong!!

Gimana hari kalian mentemennnn? Semoga secerah matahari hari ini ya, yang bikin mata silau karena cahayanya, juga semakin terik dan semakin menantikan hujan yang tak kunjung datang.

Adakah di sini Kpopers sejak jaman old? Atau baru-baru ini? Udah ngalamin suka duka apa aja selama jadi Kpopers? Kuping udah kebal belum kalau denger judgement dari non Kpopers?

**Oh iya, sebelum ke pembahasan, blog anggrainica.com ini baru aja gue rapihin, tombol subscribe di bawah (scroll terus) udah bisa dan nggak error' lagi ya. Ada beberapa hal kecil lainnya juga yang gue rapihin mungkin kalian nggak akan notice itu. Hehehehe. Salah satunya di home, pict dari postingan udah bisa langsung di geser. Udah gitu aja.**

Baiklaahh, mari kita mulai.
Kali ini gue mau ngebahas tentang beberapa lika-liku dunia per-kpopers-an.

Nggak bisa kita pungkiri kalau dunia kpopers identik dengan 
"Ah berlebihan" 
"Sebegitunya sama idol yang bahkan nggak tau kalo lu masih hidup dan bernafas"
"Ketinggian lo mimpi punya pacar atau suami kayak gitu"
Dan lain sebagainya.

Chill sist broh, chill.

Kita kpopers itu sama aja sebenernya dengan fans sepak bola, fans dangdut, fans anime Jepang atau yang lainnya.
Yang menurut kalian too much, terjadi karena punya ketertarikan yang berbeda.
Bisa aja, kpopers punya pandangan klo fans bola itu aneh, berlebihan. Satu bola dikejar sama 22 orang sekaligus.
Begitu juga sebaliknya.
Hanya ketertarikannya aja yang berbeda.
Juga nggak sedikit Kpopers yang nggak peduli idol atau yang sering disebut bias, tau kita masih hidup atau enggak. Karena tujuannya memang bukan untuk itu.

Tapiii, yang agak menggelitik adalah kalau ada beberapa orang yang menganggap kpopers, terutama perempuan itu punya selera laki-laki yang tinggi, maunya punya pasangan atau suami yang seperti idolanya.

Honestly, enggak semuanya kayak gitu.
Masih ada beberapa orang yang memisahkan antara hobi dengan real life-nya.

Simple-nya gini, kpopers sama halnya dengan yang bukan kpopers. 
Menyukai seseorang yang memang secara visual di luar batas normal.
Karena memang itulah tuntutan untuk menjadi idol, jangankan idol Korea, untuk jadi artis Ibukota aja juga dituntut harus berpenampilan menarik.

Kita, kpopers itu sama kayak kalian penyuka wanita cantik atau pria tampan sinetron di TV. Bedanya skalanya aja, yang kpopers tonton adalah Drama Korea, lagu yang di denger lagu Korea dan pelaku industri di Korea memang diharuskan memiliki standard yang sering kali kita lihat. 

Wajah tanpa pori-pori, gigi putih bersih, badan mulus, berat badan yang harus selalu dijaga, attitude di depan umum dalam kondisi apapun.
Dan kodratnya kaum wanita adalah menyukai yang indah-indah. Well, harus diakui mereka indah.
Termasuk idol wanitanya. Bukan hal yang asing lagi, kalau ada perempuan a.k.a Fangirl juga mengidolakan girl group bukan hanya boy group.

Case mengidolakan ini sama aja kayak orang-orang yang jatuh cinta dengan 'people you can't have' begitu istilahnya. 
Beberapa diantaranya punya batasan, sebagian yang lainnya mau terus mengupayakan agar suatu saat menjadi kenyataan.
Salah?
Tentu aja enggak. 
Tapi jangan sampai berlebihan atau kalau di KPop sering disebut dengan Sasaeng Fans.

Tapi kalau seandainya ada sebagian orang lagi, yang memang menjadikan pasangan atau suaminya kelak harus atau minimal memiliki kesamaan seperti idol yang mereka idolakan.
Itupun hak mereka. Hidup itu kan perjalanan sekaligus pilihan, dan setiap dari kita berhak memilih apa yang ingin kita jalani kedepannya.

Tapi buat gue sendiri, gue adalah salah satu Fangirl yang membedakan antara hobi ngefangirl gue dengan real life.
Gue nggak pernah terbesit mau punya jodoh harus kayak idol A, B, C, Z.
Enggak.
Malah bisa dibilang tanpa kriteria fisik tertentu.

Buat gue, percuma aja klo punya wajah rupawan tapi akhlak atau kelakuannya kasar baik secara fisik maupun verbal, tukang selingkuh, perhitungan.

Lagian ya, jagainnya susah.
Eh hahahahaha.
(But for me to be honest klo dapet suami yang secara fisik good looking itu adalah bonus, bukan dijadikan acuan utama).

Ya intinya dari yang gue ingin sampaikan yaitu jangan stereotip, jangan menghakimi.
Kalau fans dangdut nggak suka misalnya ada yang bilang norak, fans bola nggak suka dibilang weird karena rela bergadang sampai pagi cuma buat nontonin benda yang diperebutkan sama 22 orang, fans anime Jepang nggak suka dengan komentar-komentar negatif. Yang kpopers rasakan kurang lebih sama, mari saling menghargai perbedaan yang ada, jangan membuat penilaian sendiri yang disesuaikan dengan pandangan yang beredar di masyarakat dan dijadikan sebagai acuan untuk menilai orang lain dengan pandangan yang sama, yang bagi beberapa orang hanya dijadikan sekadar hobi dan sebenarnya berbeda dengan kehidupan di dunia nyata.

Seandainya pun ada orang yang seperti itu, yang memiliki keinginan pasangan mereka kelak harus sama dengan seseorang yang mereka idolakan, dan menjadikan kriteria fisik sebagai keharusan, hargai bukan hakimi, apalagi diolok-olok.



Ditulis Selasa, 8 Oktober 2019.




You Might Also Like

1 Comments